Keluarga

6 Pasangan Berbagi Tentang Cara Mereka Mengatur Keuangan Bersama

visibility 330

Berbicara soal pasangan dan keuangan seolah tidak ada habisnya. Setiap pasangan punya cara sendiri-sendiri dalam mengatur keuangan mereka dan tidak bisa disamaratakan. Ada yang berhasil dengan cara saling berbagi, namun ada juga yang tidak setuju melakukannya dan lebih suka memegang uang sendiri-sendiri. Kompromi soal pendapatan dan keuangan dengan pasangan memang susah-susah gampang. Karena ada yang berhasil melakukannya dengan mulus, ada juga yang berujung ribut. Tapi kalau tidak dilakukan akan membahayakan hubungan Anda. Daripada pusing, coba sama-sama kita cari pencerahan dari keenam cerita pasangan berikut tentang bagaimana cara mereka mengatur keuangan bersama.

Tipe yang santai dalam mengatur keuangan

Ana, 36, adalah seorang copywriter paruh waktu yang menghasilkan Rp 8 juta per bulan dan suaminya, Bagas, 37, menghasilkan Rp 55 juta per bulan sebagai project manager. Mereka telah dikaruniai dua orang anak dan satu anak lagi masih di dalam kandungan. Mereka memiliki akun rekening bersama dan Ana tidak suka membeli kebutuhan pribadi yang dapat menyenangkannya bila ia merasa tidak menghasilkan banyak uang di bulan tersebut. Sedangkan Bagas selalu berusaha membuat Ana senang dengan mengizinkannya membeli sepasang sepatu atau sebuah tas yang diinginkan Ana menggunakan uang di rekening bersama. Bagas hanya ingin membuat Ana tidak mengabaikan dirinya sendiri agar bisa selalu merasa bahagia. Teman-teman Ana berkata bahwa ia beruntung karena tidak banyak pria seperti suaminya.

Ini memang baik, benar-benar baik untuk hubungan suami istri. Namun sayangnya, Bagas dan Ana bukanlah termasuk pasangan yang suka mengatur keuangan bulanan mereka. Mereka adalah pribadi yang santai dan tidak terorganisasi soal keuangan. Bahkan mereka tidak menabung untuk dana darurat serta tidak memiliki perencanaan bagaimana menghadapi skenario terburuk. Mereka punya prinsip ‘let it flow’. Bila memang harus menghadapi situasi yang tidak diinginkan, mereka benar-benar baru akan tahu ketika telah melaluinya.

Tipe yang enggan berkomunikasi soal keuangan

Maya, 33, bekerja sebagai editor dengan penghasilan Rp 10 juta per bulan. Suaminya Rasyid, 38, adalah seorang polisi yang berpenghasilan Rp 15 per bulan. Mereka memiliki seorang putra yang berusia 7 bulan. Maya punya keinginan memiliki rekening bersama untuk membayar semua tagihan dan pengeluaran rumah tangga, bila kemudian masih ada uang tersisa bisa menjadi milik mereka dan dibagi rata. Namun Rasyid tidak pernah mau menandatangani formulir untuk membuka rekening bersama. Sehingga akhirnya, untuk urusan kebutuhan anak mereka, Rasyid dan Maya akan membeli menggunakan uang mereka sendiri-sendiri. Mereka pun harus membayar tagihan menggunakan cara yang sangat standar, Maya membayar beberapa, Rasyid juga membayar beberapa, dan mereka saling merasa telah membayar tagihan paling besar tanpa benar-benar tahu siapa sebenarnya yang mengeluarkan uang lebih banyak.

Hingga mereka bertemu seorang konsultan keuangan yang mengharuskan mereka untuk saling terbuka dan saling berkomunikasi tentang keuangan masing-masing demi mewujudkan keuangan bersama. Tidak boleh ada pihak yang menghindari pembicaraan soal keuangan karena bisa mempengaruhi kondisi rumah tangga mereka.

Tipe yang tertib dan teratur

Arya, 24, bekerja sebagai praktisi PR yang berpenghasilan Rp 25 juta per bulan, dan tunangannya Mutiara, 24, bekerja di industri ritel dengan pendapatan Rp 17 juta per bulan. Arya adalah pribadi yang terstruktur dan suka dengan perencanaan. Arya punya rencana hidup yang telah disusunnya di dalam dokumen Excel dengan rapi. Ada kolom untuk gaji bulanan atau pemasukan, pengeluaran, tabungan, dan rencana hari tua. Arya dan Mutiara juga telah mendapatkan tempat tinggal sendiri dan bersepakat untuk membagi pembayaran cicilan menyesuaikan besar pendapatan keduanya. Semua sudah tersistem dalam dokumen Excel yang mereka susun. Meski mereka memiliki akun terpisah dan banyak tagihan yang mereka bayar masing-masing, namun telah dibagi secara proporsional. Seperti Arya yang mendapat bagian sebesar 70% dari total pengeluaran keseluruhan, seperti untuk membayar tagihan listrik, internet, air, dan cicilan.

Kartu kredit yang dimiliki Mutiara juga akan dilunasi oleh Arya bila tagihannya adalah untuk pengeluaran makan bersama dan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Arya hanya berusaha bersikap adil karena ia merasa tidak nyaman bila pasangannya yang harus membayar lebih. Banyak temannya yang mendapatkan bantuan dari orang tua mereka, namun Arya tidak setuju dengan hal tersebut. Karena itu, Arya benar-benar harus mengatur keuangannya dengan baik dan berjuang untuk mendapatkan penghasilan.

Tipe yang sangat individual

Sarah, 44, adalah seorang manajer penjualan yang berpenghasilan Rp 30 juta per bulan, dan pacarnya Ian, 46, adalah pegawai negeri yang gajinya lebih dari Rp 50 juta per bulan. Menurut Sarah, pasangan ideal adalah yang bisa berbagi segalanya termasuk soal keuangan. Namun, Ian menginginkan bahwa uangnya adalah miliknya, dan uang Sarah adalah milik Sarah, meskipun mereka telah bersama selama tujuh tahun. Ian juga mengharapkan Sarah bisa ikut membayar setengah dari biaya liburan mereka. Meski pendapatan Ian empat kali lebih besar dari jumlah pendapatan Sarah. Ian merasa bahwa uangnya harus menjadi miliknya untuk dipakai sesuai keinginannya. Rumah yang mereka tinggali pun adalah milik Sarah, namun Ian enggan membayar setengah dari besar cicilannya.

Kepribadian Ian memang memberatkan Sarah. Ian selalu hanya mementingkan dirinya sendiri meski mereka sudah memiliki anak berusia 5 tahun. Banyak orang berpikir Sarah adalah seorang ibu tunggal. Perdebatan pun tidak akan mampu mengubah apa-apa. Sarah hanya bertahan demi anak mereka agar bisa mendapat pendidikan yang stabil.

Tipe bebas bertanggung jawab

Niko, 27, bekerja sebagai tenaga HR dan mendapat Rp 18 juta per bulan. Pacarnya Ratih, 27, adalah seorang project manager yang berpenghasilan Rp 12,5 juta per bulan. Mereka punya rekening bersama dan rekening pribadi. Masing-masing dari mereka memasukkan uang sebesar Rp 5 juta per bulan ke rekening bersama untuk membayar berbagai kebutuhan bersama. Sehingga sisanya bisa ada di rekening pribadi yang digunakan untuk kebutuhan sendiri atau membeli keinginan mereka masing-masing, seperti makanan, sepatu, perawatan, dan semua hal yang tidak berhubungan dengan pasangan. Mereka berprinsip, meski satu sama lain saling membebaskan dalam hal pengeluaran, namun jangan sampai saling memberatkan.

Bagi mereka yang terpenting adalah kepercayaan karena sangat menyenangkan bila masih bisa memiliki privasi masing-masing dan menghabiskan uang yang dihasilkan sendiri untuk membeli apa yang diinginkan tanpa harus dicampuri oleh pasangan.

Tipe minim literasi

Doni, 47, seorang pebisnis yang hidup dari keuntungan. Dan mantan istrinya Zara, 45, seorang ibu rumah tangga. Ketika masih menjadi sepasang suamiistri, keduanya masih bekerja sebagai pegawai yang mendapat gaji bulanan dan mereka bersepakat menggunakan penghasilan Doni untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan penghasilan Zara untuk ditabung. Mereka tidak memiliki rekening bersama, masing-masing disimpan dalam rekening pribadi. Namun masalah muncul ketika mereka bercerai, di mana Zara tidak membagi uang tabungan tersebut kepada Doni yang mana seharusnya Doni juga berhak atas uang tabungan itu. Secara sepihak, selama sembilan bulan sebelum perceraian, Zara telah membagi uang tabungan tersebut ke rekening ibunya dan kakaknya. Menjadi tambah sulit untuk dibuktikan. Kondisi finansial Doni menjadi berantakan dan terpaksa harus berutang setiap bulan.

Dari apa yang telah dilaluinya, Doni mengambil pelajaran untuk lebih baik memiliki rekening bersama ketika ke depannya ia memutuskan menikah lagi agar tidak ada pihak yang dirugikan.

Itu dia keenam cerita pasangan yang juga mengalami perjuangan ketika berkompromi dengan pasangan soal keuangan. Namun, bila dalam hubungan tidak ada keinginan untuk mau saling mengerti satu sama lain, pasti ujung-ujungnya juga akan menyulitkan hubungan tersebut. Nah, masih dalam suasana Hari Valentine, Anda dan pasangan dapat mencoba kembali berdiskusi soal cara mengatur keuangan bersama dan menemukan formula yang tepat bagi Anda dan pasangan. Jangan sampai ditunda, ya!

Referensi:
Olivia Gordon. 2 Maret 2013. What’s mine is mine: 10 couples on how they arrange their finances. Theguardian.com: http://bit.ly/2HiNMic

Share this Post